Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 14 Agustus 2011

Analisis Buku Mata Teks Pelajaran Sejarah SMA ( Kelas XII )

Analisis Buku Mata Teks Pelajaran Sejarah SMA ( Kelas XII )
Kurikulum Berbasis Kompetensi
Judul Buku      : SEJARAH NASIONAL INDONESIA DAN UMUM
Pengarang       : I Wayan Badrika.
Penerbit           : Erlangga
Tahun Terbit    : 2005
Tempat Terbit : Jakarta
everyman his own historian (carl becker) Prof. Helius mengungkapkan maksud dari pernyataan becker dalam buku “Metdodelogi Sejrah”. Yaitu setiap orang “normal” mengenal sejarah dan karena itu ialah ia disebut sebagai sejarawan, namun dalam kenyataannya yang disebut sejarawan sebenarnya terbatas pada bentuk profesi akademik  Penulisan sejarah, atau Historiografi adalah sebagai bentuk dan hasil akhir dari proses Metodelogi sejarah. Begitupun juga dengan buku teks (paket) yang sering didapat disekolah-sekolah, ini juga masih temasuk dalam historiografi, dan tergolong historiografi yang modern. Walaupun isinya masih konvensional dan memakai narasi formal.
Ciri-Ciri Historiografi dalam buku teks pelajaran sejarah menurut buku “historiografi di indonesia dari magis- religius hingga strukturis” karya dokter agus mulyana, M.Hum. diantaranya:
a.       Jenis penulisan sejarah dalam buku teks sejarah disebut sejarah akademik.
b.      Ada dua kerangka analisia yang dipakai dalam penulisan buku teks sejarah yaitu ideologis dan sainstifis. ciri kerangka ideologis yaitu: pertama, model penulisan ini ialah, pencarian arti subjektif
c.       Buku teks pelajaran sejarah untuk SMA di Indonesia biasanaya ada yang bercorak Indonesiasentris dan Nerlandosentris serta ada juga yang bercorak antara Indonesia dan Netherland yang disebut juga dengan sejarah konvensional. Ciri utama dari Nerlandosentris ialah bahwa teknik penulisannya lebih menggunakan sudut pandang Belanda dalam berbagai seginya sedangkan Indonesiasentris lebih menekankan pada sudut pandang Indonesia dan sumber-sumber Indonesia.
d.      Sejarah konvensional memiliki ciri-ciri diantaranya: pertama Menekankan pada aspek politik, politik diartikan sebagai negara. Kedua, penulisan bersifat naratif, dan ketiga, sejarah hanya menceritakan orang-orang atas atau manusia-manusia besar.
e.       Penulisan sejarah dalam buku teks pelajaran sejarah biasanya mengikuti perkembangan kurikulum yang berlaku.
f.       Buku-buku teks pelajaran sejarah di SMU ditulis berdasarkan pada periodisasi.
g.      Penulisan buku teks pelajaran sejarah di SMU dihadapkan pada dua pendekatan yang bersifat keilmuan dan pendekatan yang bersifat keilmuan dan pendekatan politik yang bersifat idiologis.
Saya mencoba mengkaji buku pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas XII di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan yang dapat membangkitkan kebanggaan dalam diri siswa terhadap bangsanya. Selain dari itu siswa/I dapat mengetahui peristiwa masa lalu yang pernah terjadi di bangsa ini, dan siswa/i juga biasa menghargai betapa besarnya pengorbanan pahlawan-pahlawan yang mempertahankan kemerdekaan dengan mempertauhkan jiwa raganya demi kemerdekaan bangsa ini. Hal ini bisa membangkitkan motivasi siswa untuk dapat berkarya demi bangsanya. Di bawah ini salah satu kutipan usaha untuk memperetahankan kemerdekaan (Bab II Konflik Indonesia-Belanda).

BAB II            KONFLIK INDONESIA BELANDA (1945-1950)
Kedatangan bangsa Belanda yang membonceng pasukan Sekutu-Inggris itu disambut dengan berbagai bentuk gerakan gerakan dan perlawanan oleh bangsa indonesia. Hal ini sudah tentu dapat menyebabkan terjadinya konflik antara bangsa Indonesia dengan bangsa Belanda. Bahkan konflik itu menjurus ke arah peperangan yang berkepanjangan. Meskipun Indonesia telah merdeka, pasukan Belanda berhasil masuk ke berbagai wilayah di Indonesia. Penduduk di daerah yang didatangi oleh pasukan belanda tersebut mengadakan perlawanan.(halaman : 25)
Kutipan diatas  menggambarkan bentuk perlawanan rakyat Indonesia kepada tentara Belanda. Penulisan ini cenderung mengarah pada sifat yang objektif karena lebih menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Sesuai dengan penjelasan dalam buku historiografi di Indonesia karya Dr. Agus Mulyana M. Hum ini menjelaskan bahwa penulisan diatas termasuk pada corak Indonesiasentris karena penulisan nama Belanda disebut Belanda sesuai dengan sebutan orang Indonesia terhadap Belanda. Karena jika orang Belanda sendiri menyebut Belanda itu dengan sebutan Hindia-Belanda. Tetapi dalam bab ini juga, penulisannya mendapat pengaruh dari Nerlandosentris karena dalam pembahasan ini lebih menyoroti aktivitas Belanda di Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang dituliskan dalam tulisan ini pun dituliskan sesuai dengan periodisasinya sesuai urutan waktu pada sejarah nasional Indonesia, hal ini pun sesuai dengan ciri khas pada penulisan sejarah pada buku teks pelajaran sejarah.
Terjadinya pertempuran Ambarawa-Magelang tidak jauh berbeda dengan pertempuran yang terjadi didaerah lainya. Dalam pertempuran yang terjadi didaerah Ambarawa maupun Magelang, pasukan sekutu-Inggris dan Belanda (NICA) berhsil dihalau dan dikalahkan. Bahkan dengan kemenagan psukan Indonesia itu membawa arti tersendiri bagi bangsa Indonesia maupun bagi jendral Soedirman, karena melaui pertempuran Ambarawa-Magelang itulah nama Soedirman mulai terkenal. (halaman : 26)
Dalam penulisan ini penulis menyajikanya dengan bahasa yang sederhana tetapi tetap mengikuti kaidah bahasa Indonesia agar mudah dipahami, untuk lebih mendalami dan melibatkan siswa/i dalam suatu peristiwa sejarah yang di tuliskan pada buku ini, penulis menggunakan metode deskriptif. Bentuk penulisan pada buku teks sejarah ini mengacu kepada bentuk sejarah konvensional karena ciri-cirinya sesuai dengan ciri-ciri sejarah konvensional. Dalam pembahasan ini lebih menyoroti gambaran peristiwa yang terjadi di Indonesia maka dari itu ciri dari pembahasan ini termasuk pada salah satu ciri buku teks pelajaran Sejarah yang tertera diatas yaitu Indonesiasentris.
Para pemuda berhasil memiliki senjata dengan cara merampas dari tentara Jepang yang telah dinyatakan kalah perang. Pemerintah mendukung sepenuhnya tindakan-tindakan mereka, dengan maksud mempersiapkan diri menghadapi dan mempertahankan berbagai ancaman yang datang dari manapun guna mempertahankan kemerdekaan. (halaman: 32)
Dari kalimat dan penjelasan diatas maka terlihat sekali bahwa kalimat diatas bercorak indonesiasentris karena memang disini menceritakan gambaran yang terjadi di Indonesia dan gambaran para pemuda Indonesia itu sendiri. Ciri lain dari penulisan buku teks pelajaran sejarah yang melekat disini  ialah masalah sifat keilmuan dan pendekatan politik yang bersifat ideologis, hal ini dapat terlihat pada adanya campur tangan dari pemerintah dalam mengatasi hal ini. Dan gambaran politis terhadap keadaan keamanan negara Indonesia pada saat itu.

Untuk menyelsaikan pertikaian Indonesia-Belanda, perlu diadakan perundingan dalam suasana damai sehingga diadakan gencatan senjata kedua belah pihak. Pihak Indonesia dipimpin oleh dr. Sudarsono, Jendral Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Inggris mengirim Lord Killern sebagai penengah setelah komosi gencatan senjata terbentuk. Indonesia dan belanda kembali ke meja perundingan di Linggar Jati.(halaman : 41)
Kutipan diatas menggambarkan penulisan sejarah konvensional dimana telah diadakanya suatu perjanjian atau diplomasi antara Indonesia dan Belanda. Terdapat aspek politik dalam penulisan buku teks sejarah ini, selain itu terdapat orang-orang penting (besar) dari indonesia yang di ceritakan di dalam kutipan tersebut.
Penyusunan isi buku diatas tidak terlepas dari kepentingan pemeintah. Walaupun fakta-fakta sejarah yang disuguhkan merujuk pada fakta dan data yang valid sebagaimana proses, Heuristik yang dijalankan. Ini menunjukan bahwa efek dari politisasi pemerintah yang sangat kuat terhadap pendidikan, yang dimasukan pada sebuah kurikulum dan di sesuaikan dengan kepentingan kebangsaan.Penyusunan suatu kurikulum dilandasi oleh dua landasan yaitu landasan filosofis dan landasan politis. Landasan filosofis adalah landasan yang berkaitan dengan teori atau ilmu tentang kurikulum. Sedangkan landasan politis berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pendidikan (Hasan, 1996 : 56-63).
Begitupun Penulisan buku teks sejarah Nasional Indonesia tidak bisa dipungkiri adanya pengaruh kebijakan politis dari pemeintah. Hal ini sebagai bentuk ideologisasi dalam penyusunan Historiografi Indonesia. Walaupun berbeda kebijakan dengan orba, namun pengaruhnya masih kuat terutama dalam kurikulum dan buku teks di sekolah pada masa reformasi ini.
Kurikulum sebagai suatu kebijakan pemerintah sudah barang tentu merupakan bagian dari kebiajakan politik pemerintah terutama berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan. Implementasi kurikulum sebagai bagian dari pelaksanaan pendidikan yaitu implementasi mata pelajaran. Mata pelajaran yang diberikan di sekolah merujuk pada kurikulum yang berlaku begitu pula hal buku teks yang digunakan. Buku teks yang digunakan harus merujuk pada tujuan dari mata pelajaran itu sendiri dan secara vertikal ke atas harus juga merujuk pada tujuan pendidikan secara nasional (artikel agus mulyana 2011 : 9).
Pada dasarnya pengaruh pemerintah sangat diperlukan, karena hal ini sebagai bentuk doktrinasi Negara untuk menjaga stabilitas dan legitimasi penanaman nilai-nilai Nasionalisme. Namun jangan sampai meninggalkan fakta yang valid, sehingga menghasilkan intepretasi sejarah yang tidak bedasar, apalagi menghilangkan esensi kenetralan sejarah. Menurut Soejatmoko Filsafat Sejarah adalah suatu yang netral tidak mengabdi pada suatu ideologi. Filsafat sejarah merupakan bagian dari filsafat ilmu (Soejatmoko, 1995 : 183-201). Karena siswa kebanyakan belajar sejarah yang didapat dari hasil karya (buku teks modrn/Paket) tidak sekedar menghapal bulan, tanggal, taun, tempat dan fakta-fakta lainnya. Tetapi  belajar sejarah secara esensi merupakan suatu pemahaman untuk perubahan yang lebih baik.













DAFATAR PUSTAKA
Badrika,I Wayan (2005). Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta: Erlangga
Burke, Peter, (2003), Sejarah dan Teori Sosial, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Hasan, S. Hamid. (1996), Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kuntowijoyo, (2008), Penjelasan Sejarah (Historical Explanation), Jogyakarta : Tiara Wacana.
Mulyana, Agus & Darmiasti . (2009), Historiografi Buku Teks dari Religio Magis Hingga Strukturis, Bandung : Refika Aditama. 
Mulyana, Agus. (2011) “HISTORIOGRAFI BUKU TEKS PELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH; Antara Kepentingan Kekuasaan dan Studi Kritis”. Artikel pada, Presentasi Calon Guru Besar Dr. Agus Mulyana, M.Hum

Widja, I Gede. (1991), Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah, Bandung : Angkasa. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar